orangtambang.id: Geologi Lingkungan
News Update
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Geologi Lingkungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Geologi Lingkungan. Tampilkan semua postingan

November 13, 2024

Waterloo Hydrogeologic Hydro GeoAnalyst 13

Waterloo Hydrogeologic Hydro GeoAnalyst 13

Waterloo Hydrogeologic Hydro GeoAnalyst 13 - Hydro GeoAnalyst (HGA)  adalah sistem manajemen data lingkungan kami yang komprehensif dan mudah digunakan. HGA mengintegrasikan struktur basis data yang dapat disesuaikan yang digunakan di seluruh dunia  dengan  berbagai alat canggih untuk interpretasi data, analisis statistik, pemetaan Sistem Informasi Geografis (GIS), pembuatan bagan data, dan  visualisasi dalam  dua  atau  tiga  dimensi .

Waterloo Hydrogeologic Hydro GeoAnalyst 13

HGA  mengumpulkan beragam data proyek ke satu tempat untuk secara efisien mengumpulkan, mengelola, dan melaporkan item penting kritis selama masa berlangsungnya suatu proyek. Waterloo Hydrogeologic dengan bangga memperkenalkan edisi baru HGA yang disebut Hydro GeoAnalyst Plus (HGA+)  yang mengintegrasikan fitur geokimia yang telah membuat  AquaChem  begitu sukses ke dalam kemampuan pengelolaan dan perluasan data HGA.

Waterloo Hydrogeologic Hydro GeoAnalyst 13

Dengan Hydro GeoAnalyst, para profesional lingkungan, ahli geosains, dan lembaga pemerintah memiliki semua alat yang dibutuhkan untuk mengelola data bervolume besar secara efektif dan efisien, serta membuat keputusan yang tepat tentang sumber daya lingkungan dan air.

Link Download Password Winrar

Januari 28, 2018

Geologi Lingkungan Tanah Runtuh Collapsing Soil

Geologi Lingkungan Tanah Runtuh Collapsing Soil

GEOLOGI LINGKUNGAN - TANAH RUNTUH/COLLAPSING SOIL. Collapsing soil dicirikan dengan adanya penurunan yang cepat pada saat penjenuhan karena tidak aktifnya ikatan butiran pasir. Penjenuhan ini bisa ditriger oleh banjir, loading maupun penyiraman. Disini harus dibedakan dengan indikasi adanya tunneling pada dispersive soil.

Adanya densitas insitu yang rendah indikasi dari collapsing soil meskipun conto akan hancur pada waktu proses pengambilan. Butiran cenderung menyudut, flaty, poorly graded dan kadungan silt yang banyak. Umumnya berada di atas muka air tanah, mempunyai penyemenan yang lemah (meskipun tidak semua) dan mempunyai porositas yang besar.

Collapsing soil berasal dari eolian sand dan silt, kadang berasal loess soil atau granite yang sangat lapuk mengalami leaching sehingga partikel kaolinit yang sangat halus akan terbawa ke arah bawah (sehingga terbentuk ruang dibagian yang terleaching). Mungkin saja agan ingin liat post terkait lainnya dibawah ini :
- Pengantar Geologi Lingkungan
- Geologi Lingkungan Sifat Geoteknik Deposit Collovial
- Ruang Lingkup Geologi Dalam Perencanaan Pemukiman
- Geologi Lingkungan  Tentang Gempa Bumi
- Geologi Lingkungan Tentang Polusi
- Geologi Lingkungan Tentang Batuan Sebagai Bahan Kontruksi
- Geologi Lingkungan Sifat Geoteknik Dari Pasir Kasar Dan Gravel
- Geologi Lingkungan Sifat Geoteknik Dari Deposit Estuarin
- Geologi Lingkungan Sifat Geoteknik Dari Deposit Dataran Banjir
- Geologi Lingkungan Tanah Residu Daerah Tropis
- Geologi Lingkungan Tanah Mengembang Atau Expasive Soil 


Lebih lengkap Geologi Lingkungan di SINI

Geologi Lingkungan

IDENTIFIKASI DAN TESTING COLLAPSING SOIL
Identifikasi yang paling baik adalah berasal dari informasi tentang adanya kegagalan pondasi. Adanya gradasi yang jelek dari silt di soil. Mempunyai N<10. Percontohan dilakukan dengan diameter yang besar. Thin wall sampler harus ditekan jangan dipukul. Jika mungkin maka blok sample adalah terbaik. Test yang dilakukan adalah : SPT, flooded plate bearing test dan saturated consolidometer test.

PERBAIKAN COLLAPSING SOIL
Untuk memperbaiki daerah collapsing soil maka dilakukan dengan cara membanjiri daerah tersebut dan atau dilakukan kompaksi dengan penggetaran sehingga pori-pori menjadi berkurang.
Geologi Lingkungan Prosedur Penelitian Lapangan Untuk Quarry Batu

Geologi Lingkungan Prosedur Penelitian Lapangan Untuk Quarry Batu

GEOLOGI LINGKUNGAN - PROSEDUR PENELITIAN LAPANGAN UNTUK QUARRY BATU. Alat utama untuk eksplorasi quarry batu adalah core drilling. Kadang-kadang auger dan test pit digunakan untuk menentukan kedalaman daerah pelapukan tanah penutup dan mengisi detail antara out crop pada waktu pemetaan. Cara seismik refraksi dan resistivity dapat digunakan untuk penelitian lapangan secara tidak langsung.

Pemboran umumnya dilakukan secara vertikal dan sebaiknya dilakukan secara sistematis dengan jarak 100 m. Sering kali juga inti bor ditest secara semi quantitative dengan menggunakan point load strength index, Schmit hammer.

Tujuannya untuk memberikan gambaran tiga dimensi dengan penekanan pada klas batuan, distribusi pelapukan dan alterasi. Untuk menentukan kualitasnya, core diambil untuk analisa petrografi, UCS, Indirect Tensile Strength, Elastic modulus, kecepatan gelombang sonic, densitas dan kandungan air. Biasanya core ini tidak cukup untuk analisa agregat seperti Los Angeles Abrasion test, sulphate soudness, angegate crushing value dll.

Pemetaan Geologi pada skala 1: 5000 atau 1:10.000 digunakan sebagai data tambahan dari pemboran. Karena out crop permukaan lebih lapuk dan mempunyai joint yang lebih banyak dibandingkan masa batuan yang berada di kedalaman. Pada tahap pendahuluan photo udara bisa digunakan bersama-sama dengan peta  geologi skala regional. Mungkin saja agan ingin liat post terkait lainnya dibawah ini :
- Pengantar Geologi Lingkungan
- Geologi Lingkungan Sifat Geoteknik Deposit Collovial
- Ruang Lingkup Geologi Dalam Perencanaan Pemukiman
- Geologi Lingkungan  Tentang Gempa Bumi
- Geologi Lingkungan Tentang Polusi
- Geologi Lingkungan Tentang Batuan Sebagai Bahan Kontruksi
- Geologi Lingkungan Sifat Geoteknik Dari Pasir Kasar Dan Gravel
- Geologi Lingkungan Sifat Geoteknik Dari Deposit Estuarin
- Geologi Lingkungan Sifat Geoteknik Dari Deposit Dataran Banjir
- Geologi Lingkungan Tanah Residu Daerah Tropis
- Geologi Lingkungan Tanah Mengembang Atau Expasive Soil 


Lebih lengkap Geologi Lingkungan di SINI


Geologi Lingkungan



TUJUAN INVESTIGASI
Tujuan dari pemboran dan pemetaan dari lapangan quarry adalah menentukan kualitas dan kuantitas dari batuan yang ada. Data sampingan lain  yang didapat dapat digunakan untuk pit design dan perencanaan untuk ekstrasi dan rehabilitasi. Joint orientasi dan spasing digunakan untuk design slope dan peledakan. Kedalaman air tanah dan kualitas serta permeabilitas dari rock mass akan mempengaruhi tipe bahan peledak dan pompa yang digunakan jika diperlukan.

PROSEDUR PENELITIAN LAPANGAN UNTUK PASIR DAN GRAVEL
Untuk mengetahui posisi deposit dari sand dan gravel dapat menggunakan survey geomorphologi kemungkinan adanya teras deposit, alluvial fan. Karena  deposit pasir bisa berupa levee, dune channel fill dsb. Jika photo udara tersedia sangat membantu menentukan lokasi diatas.

Penelitian deposit pasir dan gravel memerlukan penanganan yang lebih hari-hati. Pertama bahwa variasi distribusi dalam arah vertikal dan horisontal  sangat eksterm dibandingkan dengan deposit residual. Sehingga memerlukan contoh yang besar (100 kg) agar semua ukuran yang ada bisa terwakili. Material lepas sangat sukar di bor dan sukar untuk mengambil contoh.

Jika deposit  berada pada posisi yang dangkal, maka test pit dapat dilakukan baik secara manual maupun dengan back hoe atau buldozer. Jika gravel dan sand berada dibawah muka air tanah kemungkinan conto yang didapat akan lebih bersih dari kondisi in situ.

Cara geofisik yang paling tepat untuk menentukan deposit ini adalah metoda resistivity, meskipin keberhasilannya sangat tergantung pada kontras resistivitas antara air tanah, gravel yang permeable dan impermeable lempung. Untuk menentukan  posisi base rock dibawah channel deposit digunakan seismik refraksi.

Cara geofisik sangat penting kegunaannya dalam pencarian marine agregate. Cara yang paling tepat adalah seismik refleksi dan side scan sonar. Sidescan sonar mencatat detail informasi bentuk dasar laut dengan menggunakan energy rendah  tetapi dengan frekuensi tinggi (resolusi tinggi) yang ditarik di perairan dangkal. Metode ini dapat  memberikan informasi topografi dasar laut, menentukan  tipe sedimen. Data  lengkap arah vertkal dapat diperoleh dari seismik refleksi.

MASALAH LINGKUNGAN DARI QUARRY

Seperti kita ketahui bahwa lokasi quarry yang baik selalu berada di tempat lain yang jauh dari pengguna. Banyak masalah politik yang sering   terlibat dalam permasalah lungkungan di quarry dibandingkan dengan permasalahan geologi itu sendiri (pendapat pribadi penulis).

Disini diasumsikan bahwa lokasi quarry sudah dipilih berdasarkan kondisi site yang baik dan masalah teknik yang timbul akibat kegiatan tersebut pada lingkungan sekitar adalah :
1. Visual impact bentang alam dari quarry dan fasilitas pendukungnya. Misalnya hilangnya pohon-pohonan, adanya bench dsb.
2. Debu dari lalulintas. Masalah ini makin meningkat pada waktu musim kering dan berangin serta tidak adanya usaha penyiraman jalan.
3. Getaran tanah akibat peledakan.
4. Gangguan dari airblast, suara truk dll.
5. Polusi air dari dredging pasir, pencucian pasir dll. Pencemaran air tanah terjadi karena adanya buangan oli ataupun bahan kimia lainnya  ke pit ataupin open joint yang dekat dengan muka air tanah.
6. Volume lalulintas naik di sepanjang jalan desa, kota dan umumnya dilalui oleh truk dengan muatan yang berlebihan sehingga menimbulkan kerusakan jalan, keamanan, kebisingan, lumpur di jalan dsb.
7. Penentuan dan pemakaian dari ruang kosong setelah operasi penambangan selesai.

PERBAIKAN LINGKUNGAN QUARRY
Dasar ukuran untuk meminimkan konflik antara penduduk dengan aktifitas quarry adalah memaksimumkan produksi dari sumber yang ada. Adanya pengambilan dengan kadar yang tinggi saja harus dicegah karena akan mengurangi umur tambang.  Lokasi quarry di masa yang akan datang harus diperhitungkan seperti pembuatan buffer zone yang cukup. Pajak reklamasi harus di perlakukan ke pemilik quarry dan akan dikembalikan setelah mereka membuat reklamasi sesuai dengan rencana semula.

Visual impact dari quarry dapat dikurangi dengan beberapa cara. Di daerah perbukitan lokasi kerja dpat disembunyikan di balik punggungan bukit ataupin di lembah sehingga tidak terlihat dari daerah pengembangan pemukiman. Di daerah flat terrain dapat dilakukan penggalian ke arah bawah dan menempatkan semua peralatan di dalam pit jika mungkin. Diusahakan daerah kerja terekspos seminim mungkin dan berada diantara daerah asli dan pit yang sudah direhabilitasi. Lokasi dapat diperbaiki dengan melakukan penanaman pepohonan dengan membuat kontur  mendekati alami.

Polusi debu dapat ditekan dengan melakukan penyiraman di jalan - jalan yang tidak berasphal di lingkungan tambang. Pagar tanaman juga bisa sebagai perangkap debu kasar. Menutup screen deck dan penyimpan sehingga dapat mengurangi airborne dust dari proses produksi dan penyimpanan. Polusi air dapat dicegah dengan membangun kolam pengendap yang cukup besar dan dilengkapi dengan spill way. Diusahakan menggunakan kembali air yang berasal dari kolam pengendap.

Peledakan bisa menyebabkan timbulnya keluhan dari penduduk dalam pengoperasian quarry. Usaha yang dapat dilakukan  adalah :
• Membatasi  berat bahan peledak  per delay untuk  mengurangi getaran.
• Menaikan panjang stemming, tinggi bench dan jarak burden untuk mngurangi air blast dan fly rock.
• Menghindari peledakan pada cuaca yang tidak menguntungkan (berangin kencang, awan rendah) yang mengarah ke pemukiman
Geologi Lingkungan Tentang Landslide

Geologi Lingkungan Tentang Landslide

GEOLOGI LINGKUNGAN - TENTANG LANDSLIDE. Yang termasuk dalam golongan landslide adalah fall (terutama batuan dan lempung yang berjoint), slide, spread dan flow. Material yang dilibatkan adalah batu, debris dan tanah. Dibanding dengan creep maka bidang lemahnya dapat diketahui dan geometry dari badan longsoran dapat dengan jelas dibedakan. Kecepatannya relatif besar dan yang terbesar adalah flow (50 - 100 Km/jam).

Terjadinya landslide disebabkan oleh dipindahkan toe support oleh penggalian maupun erosi. Adanya penambahan beban akibat adanya pembangunan stockpile ataupun embankment, penjenuhan oleh air hujan, tertutupnya saluran pengeluaran maupun oleh dynamic loading oleh gempa bumi atau peledakan.

Munculnya air tanah akan mengaruhi landslide karena akan menaikan tekanan hidrostatik, meningkatnya berat dari soil, agregate lempung akan terdispersi dan turunnya kohesi dari tanah.
Dengan semakin bertambahnya penduduk maka terjadi penggudulan hutan. hal ini dapat menyebabkan hilangnya penguatan oleh akar tanaman, naiknya infiltrasi karena hilangnya canopy dari daun-daunan, meningkatnya tingkat erosi sehingga akan mempengaruhi landslide.Mungkin saja agan ingin liat post terkait lainnya dibawah ini :
- Pengantar Geologi Lingkungan
- Geologi Lingkungan Sifat Geoteknik Deposit Collovial
- Ruang Lingkup Geologi Dalam Perencanaan Pemukiman
- Geologi Lingkungan  Tentang Gempa Bumi
- Geologi Lingkungan Tentang Polusi
- Geologi Lingkungan Tentang Batuan Sebagai Bahan Kontruksi
- Geologi Lingkungan Sifat Geoteknik Dari Pasir Kasar Dan Gravel
- Geologi Lingkungan Sifat Geoteknik Dari Deposit Estuarin
- Geologi Lingkungan Sifat Geoteknik Dari Deposit Dataran Banjir
- Geologi Lingkungan Tanah Residu Daerah Tropis
- Geologi Lingkungan Tanah Mengembang Atau Expasive Soil 


Lebih lengkap Geologi Lingkungan di SINI


Geologi Lingkungan

BAHAYA DARI LANDSLIDE
Resiko kerusakan akibat landslide di daerah pemukiman di Indonesia semakin meningkat karena:
1. Meningkatnya pembangunan di daerah yang curam atau melakukan pemotongan di daerah yang tidak stabil untuk keperluan perumahan/ industri.
2. Semakin meningkatnya pembangunan sarana dalam ukuran besar (kolam renang,  sarana parkir dsb) sehingga membutuhkan gali dan timbun.
3. Pembangunan jalan raya dengan standart yang meningkat sehingga bukit harus dipotong atau lembah harus ditimbun.
4. Meningkatnya run off karena banyaknya permukaan yang disemen maupun hilangnya hutan.

PENELITIAN BAHAYA DAERAH PENELITIAN
Pemetaan daerah bahaya dari landslide dapat dilakukan dengan skala regional dan skala proyek.
Pada skala regional dibuat  unit rangking yang menggambarkan :
1. Daerah tersebut dipercaya stabil.
2. Stabil pada kondisi sekarang tetapi tidak stabil jika ada kontruksi atau urbanisasi.
3. Daerah yang tidak stabil karena formasi geologi dan atau kondisi slope.
4. Lokasi landslide kuno.
5. Lokasi landslide baru.

Kemudian dilakukan pengambaran  lokasi land slide, lokasi yang mungkin terjadi creep, kemiringan slope, convexcity/concavity maupun geometery (tinggi, bentuk dsb),  kedalaman tanah dan sifat geotekniknya. Juga dipetakan kondisi hidrologi (mata air, rawa, drainage, depresi dll) dan kecepatan pergerakan slope..

Biasanya skala yang digunakan adalah 1 : 100.000 dan 1:250.000.  Bahan ini bisa berasal dari interpretasi photo udara, data satelite, peta topografi maupun peta geologi regional.
Untuk skala proyek biasanya digunakan skala 1:10.000 dan data berdasarkan penelitian lapangan. Sehingga data ini cocok untuk design struktur bukan landuse zoning.

PENAMPAKAN TANAH YANG TIDAK STABIL
Tanah yang tidak stabil dapat dicirikan dari kenampakan sebagai berikut :
1. Adanya tension crack pada bagian belakang dan luncuran dari masa tanah/batuan.
2. Mata air atau rembasan yang membentuk garis (sering kali kalau mata air tidak kontinu dicirikan oleh  adanya tumbuhan yang kering).
3. Rawa  dengan sumbu yang panjang sepanjang kontur.
4. Miringnya pagar, pohon-pohon tetapi ini bisa juga indikasi creep. Biasanya instability akan menghancurkan pagar.

TEKNIK INVESTIGASI UNTUK SLOPE YANG TIDAK STABIL
Penelitian slope yang tidak stabil dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Berikut diberikan beberapa cara investigasi slope yang tidak stabil

- Interpretasi photo udara
Yang terbaik dilakukan dengan penerbangan rendah sehingga di dapatkan skala yang besar. Photo berwarna sangat berguna. Jika dipakai photo udara dengan skala 1 : 20.000 atau 1 : 40.000 maka banyak informasi yang hilang. penerbangan sebaiknya dilakukan pada pagi hari atau sore.

- Pemetaan topografi
Dilakukan di lapangan dengan skala 1:10.000 dengan interval kontur 1 m. Tidak melakukan blow up dari peta skala 1 : 250.000 dengan interval kontur 10 m. Diperlukan ground control yang banyak untuk menentukan secara akurat kondisi permukaan.
Back hoe pit/ manual pit

Sangat efektif untuk soil mapping dan sampling. Disc auger sangat berguna untuk mengambil conto sampai kedalaman 4-10 m serta mengetahui  kedalaman lapisan keras. Fabric dari tanah  akan terlihat jelas pada dinding trench demkian juga dengan perlapisan dan ketebalannya.

Geologi Lingkungan Tanah Dispersive Soil

Geologi Lingkungan Tanah Dispersive Soil


GEOLOGI LINGKUNGAN - TANAH DISPERSIVE SOIL. Dispersive soil biasanya mempunyai ukuran yang sangat halus, mudah mengalami erosi sehingga sering  menimbulkan efek tunneling dan potholing akibat adanya internal  erosion. Sering sekali dam yang dibangun di daerah dispersive soil jebol pada saat pertama kali pengisian.

DISPERSIVE SOIL DARI SEGI ENGINEERING
Adanya dispersive soil ini akan menyebabkan runtuhnya embankment dam akibat adanya piping/internal erosion. Adanya pengisian joint oleh dispersive soil dibawah badan dam akan menyebabkan meningkatnya aliran bawah permukaan dan kemungkinan akan mengerosi lapisan inti. Cut & fill slope untuk badan jalan maupun kereta api akan tererosi dengan cepat akibat adanya  aliran air permukaan.

INVESTIGASI LAPANGAN UNTUK DISPERSIVE SOIL
Indikasi adanya dispersive soil dapat dilihat dengan adanya lubang-lubang (tunnel) di horison B sementara adanya silt di horison A akan menahan lapisan ini tidak runtuh. Indikasi sinkhole atau potholes sebagai akibat runtuhnya horison A juga merupakan indikasi adanya dispersive soil. Indikasi lain adalah : adanya erosi pada saluran air sekunder, permukaan yang kasar pada cut/fill slope, adanya air warna keruh pada runoff dan runtuhnya dam-dam kecil untuk penampung air di daerah pertanian. Mungkin saja agan ingin liat post terkait lainnya dibawah ini :
- Pengantar Geologi Lingkungan
- Geologi Lingkungan Sifat Geoteknik Deposit Collovial
- Ruang Lingkup Geologi Dalam Perencanaan Pemukiman
- Geologi Lingkungan  Tentang Gempa Bumi
- Geologi Lingkungan Tentang Polusi
- Geologi Lingkungan Tentang Batuan Sebagai Bahan Kontruksi
- Geologi Lingkungan Sifat Geoteknik Dari Pasir Kasar Dan Gravel
- Geologi Lingkungan Sifat Geoteknik Dari Deposit Estuarin
- Geologi Lingkungan Sifat Geoteknik Dari Deposit Dataran Banjir
- Geologi Lingkungan Tanah Residu Daerah Tropis
- Geologi Lingkungan Tanah Mengembang Atau Expasive Soil 


Lebih lengkap Geologi Lingkungan di SINI




GEOLOGI DARI DISPRESIVE SOIL
Umumnya merupakan hasil pelapukan dari batuan yang kaya lempung. Merupakan tanah residu. Dikenal dengan adanya tanah yang bersifat kaolinitik, pengembangan yang kecil, plastisitas yang rendah. Biasanya mudah dikenali pada horison B., karena horison A sudah mengalami leached sementara horison C terlalu keras meskipun mungkin juga dispersive

PERBAIKAN TANAH DISPERSIVE UNTUK KONTRUKSI
Cara perbaikan yang umum adalah menghindari adanya run off pada slope dari cut/fill dengan membuat saluran air pada bagian atas dan slope ditanami dengan rumput.
Kecepatan rembasan harus dibuat seminim mungkin dengan jalan pemadatan dan titik-titik rembasan harus ditutup jika mungkin. Untuk pembangunan dam, dispersive soil harus dicuci dengan hati-hati kemudian dilakukan dental treatment. Alternatif laian adalah menutup lapisan dispersive dengan menggunakan geotextile dan filter pasir.
Geologi Lingkungan Tanah Mengembang Atau Expasive Soil

Geologi Lingkungan Tanah Mengembang Atau Expasive Soil

GEOLOGI LINGKUNGAN - TANAH MENGEMBANG/EXPASIVE SOIL. Dalam golongan expasive soil ini termasuk di dalamnya grumosol, vertisol, black earth. Umumnya mempunyai kandungan lempung yang tinggi, munculnya fissured structure (membentuk granular, prismatik dan bloky). Akan bersifat mengembang pada saat basah dan mngkerut serta retak pada saat kering. Nodule calcareus ditemukan di dalam tanah ini dan pada daerah kering sering ditemukan juga gipsum. Kesuburan sedang sampai  sangat subur, tapi dilain pihak akan menyebakan masalah pada pondasi.

PEMBENTUKAN EXPANSIVE SOIL
Meterial induk dari expansive soil adalah basalt, instrusi yang bersifat mafik/ intermediate, mudstone dam shale dan alluvium yang berasal dari batuan sebelumnya. Umumnya terjadi pada slope bagian bawah, dataran alluvial. Kemungkinan adanya teras gravel yang berumur tersier.

Kandungan lempung 30-90% dan pada umumnya di dominasi oleh montmorilonit. kandungan illite akan meningkat di daerah yang lebih kering. Munculnya kaolin menunjukan bahwa batuan induknya berasal dari batuan sedimen. Kapasitas pengembangan (CEC) tergantung pada presentase lempung dan mineralogi dari lempung itu sendiri (Contoh CEC Na>>K>>Mg>Ca) sementara munculnya Fe dan Ni secara umum tidak menyebakan terjadinya pengembangan. Sering menimbulkan  permukaan yang bergelombang dan ini bisa dilihat dari photo udara sebagai totol-totol.

Kemiringan joint yang besar menyebabkan lempung menjadi blok prismatik. joint ini asalnya dari tensile (pengekerutan) kemudian terjadi shearing. Sering melihatkan daerah basah karena adanya pasir yang mengisi joint atau munculnya lensa pasir. Mungkin saja agan ingin liat post terkait lainnya dibawah ini :
- Pengantar Geologi Lingkungan
- Geologi Lingkungan Sifat Geoteknik Deposit Collovial
- Ruang Lingkup Geologi Dalam Perencanaan Pemukiman
- Geologi Lingkungan  Tentang Gempa Bumi
- Geologi Lingkungan Tentang Polusi
- Geologi Lingkungan Tentang Batuan Sebagai Bahan Kontruksi
- Geologi Lingkungan Sifat Geoteknik Dari Pasir Kasar Dan Gravel
- Geologi Lingkungan Sifat Geoteknik Dari Deposit Estuarin
- Geologi Lingkungan Sifat Geoteknik Dari Deposit Dataran Banjir
- Geologi Lingkungan Tanah Residu Daerah Tropis
- Geologi Lingkungan Tanah Mengembang Atau Expasive Soil 


Lebih lengkap Geologi Lingkungan di SINI


Geologi Lingkungan

DESIGN DAN PERFORMAN DARI JALAN DI DAERAH EXPANSIVE SOIL
Permasalahan
Biasanya bergelombang karena adanya perbedaan heave, rekahan longitudinal biasanya dekat dekat dengan sisi jalan asphalt akibat adanya pengkerutan/heave. Akan terjadi progresif rusaknya pelapis jalan asphalt akibat adanya pengkerutan. Daerah jalan yang tergenang akan lebih  parah akibatnya.

Penanganan
Memindahkan subgrade badan jalan dengan dan diisi dengan granular material. Membuat pavement yang lebih tebal pada sisi jalan untuk menahan efek heave dan pengkerutan. Selokan harus diperdalam sehingga membentuk table drain dan  munculnya genangan harus dihindari.

Diatas subgrade dapat  diisi dengan gamping untuk menstabilkan jalan. Pada bagian bahu jalan yang biasanya tidak diasphalt sebaiknya ditutup  untuk mengurangi infiltrasi.

FONDASI BANGUNAN DI DAERAH EXPANSIVE SOIL
Permasalahan
Permasalahan bangunan yang didirikan di daerah expansive soil adalah sering terjadi crack di dinding, gangguan pada rangka jendela dan pintu, lantai yang bergelobang, sering terjadi saluran air kotor atau pipa air patah

Pananganan
Sebaiknya bangunan dibuat dengan sistem flexible lightweight structure. Jika mungkin fondasi diletakan di bawah lapisan expansive soil atau di bawah zone  fluktuasi air.

Untuk menahan pergeseran sebaiknya digunakan beton penguat yang sangat stiff atau lembaran beton yang berat untuk menghindari heave.
Alternatif lain adalah mengali tanah ekspasif dengan material yang tidak ekspasif. Pengisian lapisan dengan kapur akan menstabilkan fondasi. Sebaiknya teras di sekeliling rumah harus impermeable (disemen) untuk  menghindari infiltrasi. Jangan melakukan pananaman pohon maupun memindahkan pohon dari sekeliling rumah karena akan menggangu fluktuasi air tanah.

INVESTIGASI DAERAH TANAH EXPANSIVE
Adanya info dari penduduk setempat, penampakan dari bangunan dan jalan setempat sangat membantu indikasi adanmya tanah ekspansif atau tidak.  Test pit dan auger cukup untuk melakukan sampling. Test yang umum dilakukan untuk pengujian tanah ekspansif adalah : Linear shringkage, Atterberg limit, Pi x % lempung. Kadang-kadang  dilakukan test : CBR, Soil Suction, Swelling pressure dan mineralogi lempung. Dalam site investigasi juga perlu diperhatikan lokasi gravel (biasanya pada teras aluvia) untuk pengisi subgrade jalan.
Geologi Lingkungan Tanah Residu  Daerah Tropis

Geologi Lingkungan Tanah Residu Daerah Tropis

GEOLOGI LINGKUNGAN - TANAH RESIDU  DAERAH TROPIS, Tanah merupakan bahan kontruksi yang mudah digali dan mudah terintegrasi di air dalam waktu 24 jam. Biasanya dipakai sebagai filling material, pavement material atau bahan aggregate. Digunakan pada lahan yang akan ditempati oleh bangunan ringan. Problem utama yang timbul dari tanah residu adalah pengembangan dan pengkerutan (terutama tanah yang mempunyai kandungan lempung tinggi), liquifaction dan runtuhan yang tiba-tiba, piping, penurunan dan masalah kestabilan.

Sifat yang perlu mendapat perhatian adalah: ukuran butir, porositas, permeabilitas, fabric dan mineralogi. Sedangkan air tanah pada umumnya dapat mengalir melalui bidang diskontinuitas. Adanya air ini akan menurunkan kestabilan karena adanya tekanan pada joint. Mungkin saja agan ingin liat post terkait lainnya dibawah ini :
- Pengantar Geologi Lingkungan
- Geologi Lingkungan Sifat Geoteknik Deposit Collovial
- Ruang Lingkup Geologi Dalam Perencanaan Pemukiman
- Geologi Lingkungan  Tentang Gempa Bumi
- Geologi Lingkungan Tentang Polusi
- Geologi Lingkungan Tentang Batuan Sebagai Bahan Kontruksi
- Geologi Lingkungan Sifat Geoteknik Dari Pasir Kasar Dan Gravel
- Geologi Lingkungan Sifat Geoteknik Dari Deposit Estuarin
- Geologi Lingkungan Sifat Geoteknik Dari Deposit Dataran Banjir
- Geologi Lingkungan Tanah Residu Daerah Tropis
- Geologi Lingkungan Tanah Mengembang Atau Expasive Soil 


Lebih lengkap Geologi Lingkungan di SINI



Geologi Lingkungan

TANAH RESIDU  DAERAH TROPIS
Umumnya terdiri dari lempung dengan sedikit tersemen oleh Fe, Al oksida/ hidroksida. Tanah didaerah tropis sering tidak homogen sehingga sangat sensitive pada saat pengiriman conto.
Tanah ini terbentuk di daerah dengan curah hujan tinggi dan musiman dengan air tanah antara netral dan basa. Feldpar dan mafic akan terurai sehingga akan terlepas SiO2, K2O, CaO MgO sehingga hanya tertinggal Fe dan Al oksida. Tanah dapat mengeras karena adanya pengeringan dan reaksi  antara Fe2O3, Al2O3 dan lempung membentuk agregate.

Secara mikrostruktur, partikel lempung akan akan tersemenkan ke dalam kongkresi dan kilap dari agregat disebabkan adanya Fe oksida. Ketika proses pelapukan semakin intensif, agregat semakin membesar sehingga pori juga semakin membesar. Densitas semakin besar karena persentasi Fe oksida juga meningkat. Untuk melihat derajad pelapukan tanah digunakan perbandingan antara SiO2 dan FeOx +AlOX. Tanah holloysitic  mempunyai struktur tubular. Secara umum insitu densitas kering adalah rendah (1,7 - 2.1 Ton/m3) dan untuk tanah holloysitic adalah 1 ton/m3)

Shear strength dari tanah umumnya tinggi ( = 280 - 320) dan lebih tinggi lagi untuk tanah holloysitic.  Cohesi  antara 0 - 50 KPa karena adanya semen oksida. Tetapi dapat berkurang sampai 50 % pada kondisi jenuh. Insitu tanah mempunyai permeabilitas yang tinggi, tetapi akan berkurang jika dilakukan “ peremasan” untuk percontohan. Mempunyai kompresibilitas yang rendah karena munculnya efek penyemenan dari aggregate. dan adanya pembebanan dapat menyebabkan  rusaknya ikatan dan hancurnya agregate lempung. Sering sekali  gravel dari laterit (ironstone) merupakan bahan agregate yang baik. Nilai soudness dari (ironstone) sangat bervariasi. Los Angeles dan absorbsi air dapat digunakan untuk test  kualitas ironstone.
Geologi Lingkungan Tentang Amblesan

Geologi Lingkungan Tentang Amblesan

GEOLOGI LINGKUNGAN - TENTANG AMBLESAN (SUBSIDENCE) Dimaksud dengan amblesan yaitu subsidence adalah turunnya permukaan tanah sebagai akibat dari perubahan yang terjadi dibawah Tanah

PENYEBAB TERJADINYA AMBLESAN
Amblesan dapat terjadi di berbagai tempat dan disebabkan oleh banyak faktor, misalnya :
1. Tambang batubara, terutama metoda penggalian keseluruhan (total extraction) contohnya metoda longwall atau block caving. Tetapi kadang-kadang pada  sistem room and pillar  pada kedalaman yang dangkal memungkinkan terjadinya amblesan dan geometri dari amblesan mencerminkan pola pola support yang ada. Adanya spontaneous combustion pada lapisan batubara juga bisa menyebabkan timbulnya amblesan. Amblesan sebagai akibat penambangan biasanya hanya terjadi pada skala kecil (lokal) yaitu di daerah bekas tambang yang bersangkutan saja. Meskipun demikian faktor geologi tetap mempunyai peranan yang penting.
2. Penambangan untuk endapan berlapis (stratiform), contohnya garam, bijih besi, gipsum dll.
3. Pemompaan air tanah, uap geothermal dan minyak bumi yang berlebihan, akan menaikkan efektif stress dan mengakibatkan kompaksi dan amblesan tanah.
4. Penambangan pada badan bijih yang mempunyai kemiringan yang sangat tajam dan berbentuk pipa.
5. Pengeringan pada endapan gambut atau lignite.
6. Akibat tektonik, biasanya peristiwa ini terjadi akibat turunnya bagian bawah dari patahan atau sinklin. Umumnya terjadi sangat lambat walaupun pernah terjadi amblesan sedalam 2 m dalam waktu yang singkat.
7. Beban dari luar.
8. Pelarutan batuan di bawah tanah. Amblesan ini umumnya terjadi akibat proses pelapukan kimia pada batu gamping, dolomite dan gipsum. Pelarutan ini merupakan proses alamiah, tetapi akibat perubahan  hidrologi kemungkinan proses pelarutan akan dipercepat sehingga menyebabkan amblesan. Mungkin saja agan ingin liat post terkait lainnya dibawah ini :
- Pengantar Geologi Lingkungan
- Geologi Lingkungan Sifat Geoteknik Deposit Collovial
- Ruang Lingkup Geologi Dalam Perencanaan Pemukiman
- Geologi Lingkungan  Tentang Gempa Bumi
- Geologi Lingkungan Tentang Polusi
- Geologi Lingkungan Tentang Batuan Sebagai Bahan Kontruksi
- Geologi Lingkungan Sifat Geoteknik Dari Pasir Kasar Dan Gravel
- Geologi Lingkungan Sifat Geoteknik Dari Deposit Estuarin
- Geologi Lingkungan Sifat Geoteknik Dari Deposit Dataran Banjir
- Geologi Lingkungan Tanah Residu Daerah Tropis
- Geologi Lingkungan Tanah Mengembang Atau Expasive Soil 


Lebih lengkap Geologi Lingkungan di SINI


Geologi Lingkungan

MASALAH-MASALAH YANG DIAKIBATKAN OLEH AMBLESAN
1. Retakan pada dinding batu yang disebabkan oleh tekanan dan tarikan.
2. Mengubah bentuk bingkai pintu dan jendela, dan badan jalan.
3. Bangunan-bangunan tinggi menjadi tidak seimbang atau miring, misalnya chimney, tower transmisi.
4. Masuknya air ke area penambangan.
5. Banjir pada daerah rendah atau menjadi rawa.
6. Kerusakan pada jaringan pipa atau terjadinya aliran balik di dalam pipa.
7. Retakan terbuka sampai ke permukaan tanah akan mengakibatkan rusaknya konstruksi di atasnya.
8. Perubahan pola aliran permukaan dan air tanah.

PENGARUH GEOLOGI PADA TERJADINYA AMBLESAN
Litologi mempengaruhi kuat tarik, regangan hancur, kekakuan dan bulking factor dari perlapisan atap (roof strata). Karakteristik joint, terutama spasi dan vertical persistence sangat mempengaruhi ukuran blok, kecepatan amblesan dan regangan permukaan. Individual joint sangat mungkin akan terbuka menjadi rekahan permukaan. Struktur planar (patahan, dyke) mengakibatkan pergerakan permukaan sepanjang pada jejak permukaannya.

Kedalaman pelapukan (dan material tanahnya) mempengaruhi besarnya rekahan permukaan, sudut limit dan regangan maksimum. Topografi permukaan dan kemiringan perlapisan subsurface mempengaruhi  simetri dari profil amblesan dan distribusi regangan tarik dan tekan. Sebaliknya, amblesan mempengaruhi massa aliran hidrologi yaitu dengan terjadinya rekahan massa batuan pada saat terjadi tegangan tarik tetapi akan tertutup kembali, dan terjadi perubahan pola aliran air di permukaan dan bawah tanah.

EFEK LITOLOGI
Pada umumnya amblesan berhubungan dengan perlapisan yang masif (seperti sandstone, conglomerate, limestone) dengan kekuatan massa batuan yang besar (50-60 MPa) karena itu mempunyai rigiditas yang tinggi  dan tensile bending yang rendah.

Faktor amblesan untuk lapisan shale mencapai 0.9 dibandingkan dengan sandstone masif dimana faktor amblesannya hanya 0.55 - 0.65 (data dari tambang batubara di Illawara dan New Castle). Tetapi beberapa shale sangat masif dan kaku (100 MPa) maka akan ambles seperti layaknya sandstone yang masif.

Patahan atau rekahan yang tidak menerus (bridging characteristic) pada lapisan yang masif  dapat digunakan untuk pilar dan panel dimana terjadinya perubahan regangan akibat amblesan sangat dibatasi, misalnya di daerah perkotaan.

JOINT
Kekar terbuka karena adanya regangan tarik, 200 mm mungkin terjadi di lapangan tetapi yang umumnya terjadi adalah 25-50 mm, sedangkan bukaan 600 mm sangat jarang terjadi.  Pembukaan joint umumnya mengarah secara subparalel (lebih kurang 300) dari garis muka yaitu sepanjang garis yang mempunyai regangan tarik maksimum. Joint terbuka pada saat  terjadinya fase tarikan (tensile phase) dari gelombang amblesan dan umumnya akan menutup kembali pada fase tekanan (compressive phase). Joint yang akan tetap terbuka umumnya terjadi di ujung panel.

Joint terbuka atau rekahan sangat nampak pada outcrop atau di bawah lapisan tanah yang tipis terutama dekat jurang, dimana sangat mungkin menjadi penyebab rockfalls. Rekahan yang sangat lebar dengan jarak antar rekahan lebih kurang 100 m  terdapat di sepanjang master joints. Pergerakan pada master joint menyebabkan patahnya massa batuan dan mengurangi nilai faktor amblesan.

FAULT DAN DYKES
Pengaruh amblesan pada patahan dan dykes hampir sama dengan pada master joint tetapi dapat terjadi lebih merusak (pada daerah yang terjal dapat terjadi lemparan sejauh 1-2 m), bila lapisan tanahnya tebal dapat mengakibatkan tonjolan ke atas bump.  Yang juga perlu diperhatikan adalah masuknya aliran air tanah ke daerah kerja karena patahan atau dykes mempunyai arah yang cenderung lebih vertikal daripada joint.

PELAPUKAN TANAH DAN ENDAPAN BAGIAN ATAS
Pada umumnya tidak mempengaruhi amblesan tetapi mengurangi regangan permukaan, terutama mengurangi konsentrasi regangan karena adanya kekar terbuka. Pelapukan menyebabkan kekuatan batuan menjadi lebih kecil dan mudah terdeformasi daripada batuan induknya, misalnya saprolit dan residual soil cenderung berprilaku plastis daripada brittle.

Pelapukan menyebabkan kesulitan mengidentifikasi pergerakan amblesan dari mengembang atau mengkerut karena perubahan kelembaban alami. Pasir lepas dan jenuh di rawa-rawa utama cenderung mengalir karena amblesan sehingga mengurangi pergerakan vertikal dan regangan, dan meningkatkan sudut batas (misalnya amblesan pada permukaan yang datar tetapi efeknya lebih luas.

EFEK TOPOGRAFI
Efek topografi pada amblesan sangat sederhana, untuk daerah daerah perbukitan regangan tarik meningkat sepanjang ride lines dan regangan tekan meningkat disepanjang lantai gully.  Perlu ditambahkan bahwa prediksi amblesan secara empirik didasarkan pada ketinggian permukaan kerja, dimana kondisi ini tidak dapat dipakai untuk lereng yang curam.

HIDROLOGI
Sumur-sumur air akan kehilangan airnya pada saat terjadi tarikan amblesan karena pergerakan massa batuan. Tinggi muka air cenderung mengikuti sampai pada level akhir amblesan maka secara keseluruhan akan terjadi peningkatan permeabilitas. Tetapi  aquiclude  akan runtuh menyebabkan kebocoran antara aquifer. Hal ini bisa menyebakan terjadinya intrusi air laut jika berada di daerah dataran pantai.

Lubang bor yang tidak bercasing kemungkinan akan runtuh akibat adanya shearing sepanjang bedding dan adanya aquifer yang runtuh akan menyebabkan tambang kebanjiran, sebab lubang bor dan patahan akan berfungsi sebagai saluran air.
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done